Beranda » Literasi » Strategi Menghafal Al-Qur’an Cepat Dan Efektif

Strategi Menghafal Al-Qur’an Cepat Dan Efektif

Sebuah Panduan Praktis Membuat Hafalan Qur’an Yang Lancar, Kuat dan Berkualitas

Oleh : Ustadz Mukhamad Sayful Ulum S.Pd.I (Guru Qur’an SMP IT As Syifa Jalancagak)

 

PENGANTAR

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu amal yang sangat mulia. Namun, perjalanan menghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada kalanya seseorang mampu menambah hafalan dengan cepat, tetapi kesulitan mempertahankannya. Ada pula yang hafalannya kuat, tetapi proses menambah hafalan terasa lambat.

Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan penting Bagaimana cara menghafal Al-Qur’an dengan cepat tetapi tetap berkualitas? Tulisan ini disusun untuk menjawab pertanyaan tersebut. Arttikel ini tidak bermaksud menawarkan metode instan untuk menghafal Al-Qur’an. Sebab, tidak ada metode yang dapat menggantikan kesungguhan, doa, kedisiplinan, dan muraja’ah. Yang ditawarkan disini adalah sistem dan strategi agar waktu yang digunakan untuk menghafal menjadi lebih efektif dan hasil hafalannya lebih kuat.

Semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk membantu lahirnya generasi yang tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mencintai, memahami, menjaganya dalam dada, mengamalkan dan mendakwahkannya.

 

BAB 1 MEMBANGUN FONDASI HAFALAN

Mengapa Kita Harus Menghafal Al-Qur’an

Sebelum pertanyaan tersebut terjawab tuntas terlebih dahulu akan dijelaskan tentang pengertian al-Qur’an sehingga nanti akan ditemukan alasan yang tepat dan kuat kenapa kita harus menghafal Qur’an. Al-Qur’an yaitu kalam Allah SWT yang diturunkan kepada baginda nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat jibril Alaihis salam yang sampai kepada kita secara mutawatir, yang ditulis dalam mushhaf, dibuka dari Al-fatihah dan ditutup dengan surat Annas dan dinilai ibadah bagi pembacanya. Definisi di atas merujuk dari pendapat para ulama ahli Qur’an dan Hadits.

Menghafal Al-Qur’an merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan. Banyak orang memiliki keinginan untuk menjadi hafizh atau hafizhah, tetapi tidak semua mampu mempertahankan semangat tersebut dalam jangka panjang. Pada awalnya seseorang mungkin sangat bersemangat dalam menghafal, ia membuat target tinggi, menghafal beberapa halaman dalam waktu singkat, dan merasa bahwa proses menghafal berjalan dengan baik. Namun beberapa minggu kemudian muncul persoalan seperti; hafalan lama mulai lupa, ayat sering tertukar, sulit menyambung ayat, bacaan kurang tepat, target tidak tercapai hingga muncul rasa jenuh dan semangat menurun.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya sekadar persoalan seberapa cepat seseorang dapat menambah hafalan, tetapi juga seberapa kuat ia mampu mempertahankannya. Oleh karenanya, tulisan ini menghadirkan dan menyajikan empat prinsip utama agar memperoleh target hafalan diharapkan, prinsip tersebut adalah :

  1. Kuat dalam niat.
  2. Maksimal dalam proses.
  3. Tepat dalam bacaan.
  4. Kuat dalam muraja’ah.

Namun perlu diingat bahwa keempat hal tersebut harus berjalan beriring bersama dan konsisten.

Berikut akan dipaparkan alasan utama kenapa kita sebagai kaum yang beriman diharuskan menghafal Al-Qur’an. Pertama adalah menghafal Qur’an merupakan ibadah ringan dengan pahala yang besar, menghafal juga termasuk bentuk ibadah setelah sholat yang merepresantasikan interaksi seorang hamba dengan tuhannya yaitu Allah SWT.

Tradisi menghafal Al-Qur’an telah berlangsung sejak zaman Rasulullah SAW dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Para sahabat memiliki perhatian yang besar terhadap hafalan Al-Qur’an, baik untuk menjaga kemurnian wahyu maupun untuk mengamalkannya dalam kehidupan.

Kedua adalah al-Qur’an sudah Allah SWT jamin kemudahannya dalam mempelajarinya maupun menghafalnya seperti firman Allah dalan surat al-Qomar yang diulang beberapa kali dengan ayat yang sama, Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِر

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Ayat tersebut memberikan optimisme bahwa Allah memberikan kemudahan bagi orang yang bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an sekaligus memberikan motivasi bahwa Al-Qur’an memiliki kemudahan untuk dipelajari dan dihafalkan. Meskipun demikian, dalam praktiknya setiap orang memiliki kemampuan, kecepatan, karakter, dan kondisi yang berbeda-beda.

Ketiga adalah Menghafal Al-Qur’an merupakan amal yang mulia. Rasulullah SAW memberikan motivasi besar kepada umatnya untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori Radhiallahu ‘anhu :

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاٰنَ وَعَلَّمَهُ . (رواه البخاري)

 “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Hadits tersebut menunjukkan kedudukan mulia orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain dan termasuk dalam kategori orang yang belajar adalah menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an.

Hakikat Hafalan Qur’an

Memiliki hafalan bukanlah tujuan akhir, hafalan al-Qur’an sejatinya adalah sarana untuk semakin dekat dengan kalam Allah. Karena itu, seseorang yang menghafal seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengucapkan ayat tanpa melihat mushaf. Ia juga perlu berusaha membaca dengan benar, memahami makna, mengamalkan, menjaga hafalan dengan kuat, berakhlak sesuai petunjuk Al-Qur’an dan mendakwahkannya ke halayak umum.

Hakikat menghafal Al-Qur’an adalah membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Menurut imam Syafi’i di antara tujuan menghafal Al-Qur’an adalah agar dapat  membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya. Jika seseorang sudah dapat hidayah ingin hafal Al-Qur’an, maka harus dipegang kuat-kuat dan bersabar, yang Allah SWT apresiasi adalah usaha untuk menghafal, jadi tidak berguna saat hafal Al-Qur’an tapi tidak lagi membacanya. Karena dengan Al-Quran itu kita ber-tijarah dengan Allah, hal tersebut pernah diungkapkan oleh Ustadz Abdul aziz abdul rauf dalam sebuah kesempatan pelatihan guru Qur’an.

Dengan demikian, keberhasilan dalam menghafal al-Qur’an  tidak hanya diukur dengan jumlah juz yang sudah diraih dan dihafal dengan baik, namun lebih dari itu yaitu mampu menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat dalam keseharian sehingga nantinya al-Qur’an akan menjadi syafaat, bukan yang melaknat di akhirat.

Persiapan Sebelum Menghafal Qur’an

Hal yang paling dasar yang harus disiapkan sebelum menghafal Qur’an adalah niat ihlas karena Allah SWT serta memiliki tujuan yang jelas. Niat yang benar akan membantu seseorang tetap bertahan dan tsabat ketika menghadapi kesulitan dalam proses menghafal. Tujuan yang jelas membuat perjalanan menghafal Qur’an menjadi lebih terarah dan terukur seperti halnya tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Yang dimaksud dengan tujuan jangka pendek adalah seperti menghafal perhari 2 halaman dengan lancar, jangka menengah yaitu menghafal 1 juz dalam dua minggu dan jangka panjang adalah menyelesaikan seluruh hafalan dan mampu menjaganya dengan baik dalam 2 tahun.

Target jangkan pendek, jangka menengah maupun jangka panjang dapat dicatat dan dituliskan di buku target hafalan bahkan di dinding kamar agar menjadi misi dan cita-cita kehidupan serta manjadi road mapping yang nantinya mampu menjadi pengingat yang kuat.

Memilih waktu yang tepat termasuk hal yang sangat penting dalam memengaruhi kualitas hafalan. Setiap orang atau individu memiliki waktu efektif yang berbeda. Adapun waktu yang sering digunakan untuk menghafal Qur’an antara lain seperti sebelum dan setelah subuh, pagi sebelum aktivitas padat, setelah ashar, setelah maghrib dan sebelum tidur digunakan untuk muraja’ah. Waktu terbaik bukan semata-mata ditentukan oleh jam, tetapi oleh kondisi konsentrasi seseorang.

Kemudian yang tak kalah pentingnya bagi seorang yang hendak menghafal Qur’an adalah harus memperhatikan hal-hal di bawah ini agar selama pelaksanaan atau dalam proses menghafal Qur’an nanti diberikan kemudahan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

  1. Membersihkan diri dari hal-hal yang bersifat negativ dan menjauhkan pula dari kesibukan yang bersifat duniawi.
  2. Menata niat untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengikuti sunnah Nabi dan ulama salaf.
  3. Berdoa kepada Allah secara maksimal juga meminta doa orang tua dan guru.
  4. Membuat schedule yang jelas untuk mengahafal dan istiqamah.
  5. Berteman dengan orang-orang yang dapat menggugah dan memotivasi untuk terus menghafal.
  6. Banyak membaca sejarah para penghafal Al-Qur’an dan para master Al-Qur’an, seperti sejarah imam qira’at sab’ah di belahan dunia.Menggunakan Satu Mushaf

Menggunakan Satu Mushaf

Memilih mushaf al-Qur’an dalam menghafal Qur’an merupakan hal yang sangat penting, setelah memilih mushaf yang cocok dengan visual kita maka langkah selanjutnya adalah menggunakan dan memakai mushaf tersebut untuk mengghafal dari awal proses menghafal hingga ahir proses. Menggunakan satu mushaf secara konsisten dapat membantu membangun memori visual bagi penghafal sehingga terbiasa mengingat posisi ayat pada halaman tertentu.

Ketika menggunakan satu mushaf saja dalam menghafal Qur’an maka seseorang dapat mengingat bahwa sebuah ayat berada di bagian atas atau bawah bahkan di bagian tengah halaman, memori visual tersebut dapat membantu proses mengingat dan merekam dalam otak seseorang sehingga proses pengumpulan dari satu ayat ke ayat berikutnya atau dari satu baris menuju baris berikutnya akan mudah diingat dengan baik.

Jadi, menggunakan satu mushaf dalam proses perjalanan menghafal Qur’an adalah sebuah keharusan yang mutlak dan tidak bisa diabaikan karena sangat berpengaruh terhadap kekuatan ingatan visual tata letak ayat demi ayat yang sudah dihafal.

 

BAB 2 STRATEGI MENGHAFAL DENGAN CEPAT

A. Prinsip Dasar Menghafal Dengan Cepat

Sekurangnya ada empat prinsip dasar yang perlu dibangun oleh seseorang yang hendak menghafal Qur’an agar tercapai target yang dituju, yaitu hafal dengan cepat dan kuat, prinsip tersebut adalah :

  1. Memperbaiki bacaan sebelum menghafal agar terhindar dari kesalahan dalam menghafal ayat karena dampak menghafal dari ayat yang salah dalam bacaannya akan menyulitkan penghafal ketika dibetulkan sehingga sangat mempengaruhi proses dan jangka waktu yang telah ditentukan.
  2. Sedikit tetapi konsisten, Lebih baik menghafal satu halaman setiap hari secara konsisten daripada menghafal 3 halaman tetapi hanya dilakukan sesekali saja.
  3. Tidak meninggalkan pengulangan hafalan atau muraja’ah hafalan dari ayat sebelumnya dan surat sebelumnya, hafalan yang baru dibuat tanpa diulang-ulang akan lemah dan mudah lupa.
  4.  Setorkan hafalan ke orang lain dalam hal ini adalah seorang guru Qur’an atau seseorang yang memliki kredibilitas dalam memahami ilmu tajwid dan hafalan Qur’an.

B.Teknik Membagi Ayat

Pada tahap ini kita akan mencoba simulasikan bagaimana teknik menghafal ayat-ayat al-Qur’an, kita harus benar-benar fokus dan mengingat tiap kata yang kita baca. Tiap kata itu dirangkai menjadi kalimat, tiap kalimat dirangkai menjadi ayat, tiap ayat dirangkai menjadi halaman, tiap halaman dirangkai menjadi juz, tiap juz dirangkai hingga kita betul-betul menyelesaikan hafalan al-Quran secara utuh. Bagaimana caranya? Kita akan melakukan teknik penggal ayat.

Penggal ayat diperlukan sebelum kita benar-benar menghafal. Karena pada tahap awal ini, kita tidak mungkin langsung menghafal satu ayat secara utuh, yang jadi masalah adalah, bahwa satu ayat terkadang bisa sampai lebih dari satu baris, padahal menghafal satu baris itu sulitnya bukan main. Sekarang tugas kita adalah memenggal ayat menjadi tiga potongan kecil tiap barisnya.

Perlu diingat bahwa penggalan ayat yang kita buat ini hanya untuk alat bantu kita dalam menghafal. Bukan untuk merubah posisi ayat atau rujukan ber-waqaf, karena posisi ayat dalam al-Quran bersifat mutlaq tidak bisa dirubah, sedangkan ber-waqaf juga ada aturannya sendiri, sehingga saat setoran nanti kita tetap harus membacanya dengan utuh dan tidak terpenggal.

Di bawah ini akan kami jelaskan teknik dan cara dimaksud yaitu teknik membagi ayat atau penggal ayat dengan cara membagi satu baris menjadi tiga bagian atau penggalan kalimat sehingga dapat dipraktekkan secara langsung dengan cara dan urutan yang benar.  

6152283825820602849

Setelah kita berhasil memenggal ayat, maka lanjut ke tahap berikutnya yaitu mulai menghafal tiap penggal, hafalkan penggalan pertama sampai benar-benar hafal, lalu lanjut penggalan ke dua sampai lancar, sebelum menghafal penggalan ke tiga pastikan terlebih dahulu penggalan pertama dan ke dua sudah lancar, setelah penggalan satu sampai tiga sudah lancar maka baru dilanjutkan ke penggalan berikutnya yakni penggalan ke empat (sampai ahir ayat) seperti contoh di bawah ini :6152283825820602850

Sampai dengan tahap ini, harusnya masih mudah, karena baru satu penggalan ayat yang kita hafal. Indikator dikatakan hafal adalah apabila kita sudah bisa melafalkan bacaan tersebut tanpa melihat tulisannya.

Anggaplah sekarang penggalan pertama sudah kita hafal, sekarang kita lanjutkan menghafal penggalan berikutnya dengan cara yang sama seperti pada penggalan pertama. Kesulitan akan mulai terasa di tahap selanjutnya, di sini kita akan diuji konsistensi kita dalam menghimpun hafalan ayat perayat dari al-Qur’an. Jika kita berhenti dan menyerah maka target itu tidak akan pernah terwujud.

C. Teknik Menggabungkan Ayat

Agar hafalan Qur’an dapat tergabung utuh menjadi satu halaman maka kita akan menggabungkan antar ayat dengan ayat berikutnya. Kesulitan menghafal mulai terasa ketika kita menggabungkan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya, tugas kita sekarang adalah tetap semangat untuk menggabungkan ayat ke-1 dan ke-2 dalam satu bacaan yang utuh tanpa melihat mushaf.  Pada tahap ini kita akan merasakan sensasi gali lubang tutup lubang.

Istilah “Gali lubang tutup lubang”, adalah kondisi dimana saat ayat ke dua telah dihafal namun ayat yang pertama malah lupa. Begitu ayat pertama kembali kita hafal, yang terjadi malah ayat yang kedua lupa. Jika terjadi demikian, jangan khawatir karena itu adalah hal yang wajar. Sensasi gali lubang tutup lubang akan terus dialami bahkan ketika hafalan kita sudah banyak. Tentu dengan skala yang lebih besar. Misal, ketika juz 2 sudah lancar tiba-tiba juz 1 nya lupa, ketika kembali ngelancarin juz 1 gantian juz 2 yang lupa dan seterusnya.

Fenomena gali lubang tutup lubang ini merupakan sinyal dari otak kita yang memberitahukan bahwa kita belum siap melanjutkan ke ayat berikutnya, sederhana. Maka nikmati sensasi ini dengan sabar, akan ada waktunya kita akan berhasil menyambung dua ayat tersebut. Kita nikmati saja alurnya insyaAllah semakin banyak kita mengulang, maka akan semakin banyak pahala yang akan didapat.

D. Teknik Menghafal Satu Halaman

Untuk mendapatkan hafalan satu halaman Qur’an maka diperlukan teknik penggabungan antar ayat, mulai dari ayat yang paling atas, tengah dan bawah dengan cara seperti halnya menggabungkan antar penggalan dalam satu ayat. Berarti yang perlu kita lakukan adalah menggabungkan ayat paling atas dengan ayat di bawahnya, kemudian dilanjutkan dengan ayat di bawahnya lagi.

Hindari menggabungkan ayat bagian tengah dengan ayat di bawahnya sebelum ayat yang paling atas dan ayat yang tengah belum lancar. Tugas kita adalah memastikan terlebih dahulu ayat yang paling atas dengan ayat di bawahnya sudah lancar seratus persen barulah kita diperbolehkan melanjutkan ke baris ayat yang paling bawah kemudian menggabungkan semua baris ayat di halaman tersebut.

Jika sudah berhasil menghafal satu halaman secara utuh maka diperlukan waktu untuk istirahat, berikan diri kita self reward. Pahamilah bahwa tidak ada satu ayat pun yang berhasil dihafal melainkan atas karunia Allah yang diberikan kepada kita, bayangkan bahwa kita yang hina ini diberikan hak untuk menghafal satu ayat dari kalamullah yang mulia. Kita harus selalu menghargai diri kita sendiri dari tiap ayat yang berhasil dihafal, ini adalah kunci yang menjadikan hafalan itu nikmat. Tugas kita berikutnya adalah menggembok atau mengunci halaman tersebut sebelum lanjut ke ayat dan halaman berikutnya.

Cara menggembok halaman tersebut adalah dengan mengulangi hafalan di halaman tersebut sebanyak 17 kali dengan rmenggunakan Rumus 755 (1-7 boleh sambil membuka mushaf, 8-12 dengan cara buka tutup mushaf, 13-17 tidak boleh membuka mushaf) sehingga kita betul-betul sudah hafal di luar kepala. Teknik dan cara ini menjadi sangat penting karena kita akan lanjut ke ayat atau halaman berikutnya. Kalau halaman pertama ini tidak digembok, khawatir nanti ia bisa hilang, dan kita akan menghafal lagi dari awal. Bukankah rumah akan kita digembok sebelum berpergian? agar ketika kita kembali pulang umah kita masih utuh seperti sebelum kita tinggal pergi.

E. Memanfaatkan Waktu Produktif

Agar kita mampu membuat dan memliki hafalan al-Qur’an yang baik dan berkuwalitas maka kita dapat menggunakan waktu-waktu yang telah Allah Swt berikan kepada kita dalam sehari 24 jam. Adapun waktu harian yang tepat dan dapat kita optimalkan adalah ;

1. Ba’da shalat subuh, waktu menghafal Quran paling ideal yang pertama ialah ba’dah sholat subuh atau setelah fajar. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah mendoakan untuk umatnya. “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” Selepas shalat subuh adalah waktu yang nyaman untuk menghafalkan Al-Qur’an. Mengakhirkan diri dari pulang shalat berjamaah karena memilih membaca Al-Quran di masjid tentunya akan lebih indah.

Adapun tidur lagi sesudah shalat shubuh adalah hal yang buruk. Maka dari itu, waktu menghafal Quran yang baik adalah ba’da sholat subuh jika tidak ada aktivitas lain hafalkan Al-Qur’an. Membuat atau menambah hafalan baru pada waktu subuh juga sangat baik, adapun muraja’ah lebih baik ba’da Isya atau menjelang tidur. Nabi Muhammad juga meminta kepada umatnya untuk berdzikir usai menunaikan sholat Subuh.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian duduk, berdzikir sampai matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, itu seperti pahala haji dan umroh.” (HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik).

Sehingga menghafal atau membaca Al-Qur’an dari subuh hingga matahari terbit merupakan alasan untuk memperoleh pahala haji dan umroh. Sebab sebaik-baik berdzikir itu ialah membaca Al-Qur’an.

‍2. Setelah tidur siang atau qailullah, waktu menghafal Qur’an paling ideal yang selanjutnya adalah Setelah Tidur Siang atau Qailullah. Tidur siang yang singkat bisa mengembalikan lagi kesegaran tubuh dan juga otak kita. Setelah dibebani dengan berbagai macam aktivitas di pagi hari. Maka dari itu, sesudah tidur siang, keadaan badan akan menjadi segar lagi dan bisa digunakan untuk menghafalkan atau pengulangan sederhana.

Para ulama berpendapat bahwa tidur siang itu tidaklah wajib, jadi tidak berdosa saat tertinggal. Hanya yang bisa mencapainya serta mempunyai kesempatan untuk mencapainya, walaupun dikatakan oleh Rasulullah sebagai berikut. Dalil yang menganjurkan tidur siang ialah hadits dari Annas Radhiyallahuanhu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Menyatakan: “Tidurlah qailulah (tidur siang) karena setan tidaklah mengambil tidur siang.” (HR. Abu Nu’aim).

‍3. Ba’da shalat fardhu di masjid, waktu menghafal Quran paling ideal yang berikutnya adalah ba’da sholat di masjid. Luangkan waktu 30 menit atau 1 jam sesudah berdoa untuk membaca atau mengulangi hafalan muroja’ah.

Sebab biasanya rasa ingin mengulang itu masih ada, ini merupakan salah satu cara paling produktif. Apabila Anda ingin meluangkan waktu untuk mengulang atau menambah hafalan Al-Quran.

InsyaAllah kita akan merasa nyaman dalam menghafal Al-Quran di masjid. Apalagi jika ada guru yang siap untuk menjelaskan tadabbur serta tafsir Al-Quran, tentunya akan menambah pengalaman mengesankan dengan pahala berharga.

Maka dari itu, salah satu waktu menghafal Quran paling ideal ialah ba’da sholat di masjid. Dari Uqbah bin Amir RA, dia menceritakan, “Rasulullah SAW datang menemui kami di shuffah. Kemudian beliau bertanya, “‘Siapakah di antara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buthan atau Aqiq lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis yang terbaik.

Tanpa melakukan satu dosa atau memutuskan tali silaturahmi?’ Kami menjawab, ‘Ya Rasulullah, kami semua menyukai hal itu.’ Rasulullah SAW Bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian tidak ke masjid.

Lalu mempelajari atau membaca dua buah ayat Alquran (padahal yang demikian itu) lebih baik baginya daripada dua ekor unta betina, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta betina.

Dan begitu pula membaca 4 ayat lebih baik baginya daripada 4 ekor unta betina. Dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca mendapat sejumlah yang sama dari unta-unta.” (HR.Muslim dan Abu Dawud)

4. Antara waktu maghrib dan isya, waktu menghafal Quran paling ideal yang berikutnya adalah antara magrib dan isya’. Sudah menjadi tradisi bagi seluruh umat muslim di Indonesia untuk membiasakan membaca Al-Qur’an setiap menjalankan ibadah Magrib.

Tradisi tersebut juga biasa dilakukan lewat penghafalan Al-Qur’an. Merupakan suatu kebijakan bagus untuk membiasakan diri membaca Al-Qur’an sesudah Magrib, terutama bagi mereka yang telah mempunyai anak.

Paling tidak, sesudah beribadah Magrib, mulailah untuk membatasi akses hiburan, matikan televisi, ambil handphone anak-anak. Beritahu mereka agar membaca Al-Qur’an sesudah beribadah Magrib, sebelum menyentuh apapun.

Rasulullah Saw. bersabda “Jangan lepaskan hewan-hewan ternak dan anak-anak kalian saat matahari terbenam sampai berlalunya awal isya karena setan berkeliaran antara waktu terbenamnya matahari sampai berlalunya awal isya.” (HR.Muslim).

5. Menjelang tidur malam, waktu sebelum tidur adalah diantara waktu yang sangat baik untuk menghafal Qur’an, baik menambah atau mengulang hafalan dikarenakan kondisi otak lebih tenang menjelang tidur, pikiran cenderung lebih fokus dan bebas dari gangguan atau kebisingan aktivitas siang hari.  Proses konsolidasi memori saat kita tidur otak tetap aktif menyerap dan merapikan informasi yang baru saja dimasukkan sebelum beristirahat. Hafalan lebih melekat membaca atau mengulang ayat-ayat al-Qur’an sebagai aktivitas terakhir membuat rekaman memori lebih kuat terbawa hingga pagi hari.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kemenag, K. (2019). Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia.

Khoiri, Yusuf (2024). E-Book Metode Tahfidz Termudah. Klaten.

Abdurr Rauf, Abdul Aziz. (2022). Panduan Ilmu Tajwid Aplikatif. Jakarta Timur: Markaz Al-Qur’an.

Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulullahi Saw. wa Sunanihi wa Ayyamihi, Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.

An-Nawawi, Imam. (2019). At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an: (A. R. Shohibul, Penerjemah). Jakarta: Pustaka Amani.

Ahsin W. Al-Hafidz. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an. Jakarta: Bumi Aksara.

Sa’dulloh. 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.

Herman Syam El-Hafizh, Siapa Bilang Menghafal Al-Qur’an Itu Sulit,(Yogyakarta: Pro-U Media, 2015)

Metode Muraja’ah dalam Menjaga Hafalan Al-Qur’an di Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam.

Muhammad Habibillah Muhammad asy-Syinqithi, (2011) Kiat Mudah Menghafal Quran, Solo: Gazzamedia.

 

SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak – Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi
🌐 Website Pendaftaran Murid Baru:
https://pmb.assyifa.info/?

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

5 + five =

Berita Lainnya