Beranda » Literasi » Jejak Besar Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Ilmu Kedokteran

Jejak Besar Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Ilmu Kedokteran

Tugas Bahasa Indonesia Membuat Artikel Ilmiah

Oleh : Langit Sayyidina Sastranegara (Kelas 8 Utsman)

Tahukah kamu? Bahwa sebelum fakultas kedokteran Eropa berdiri, buku petunjuk medis paling populer di dunia ditulis oleh seorang ilmuwan Muslim bernama Ibnu Sina. Jauh sebelum sains barat mengenal mikrobiologi dan pembedahan modern, peradaban Islam pada masa keemasan telah mengoperasikan rumah sakit canggih gratis lengkap dengan rekam medis pasien. Revolusi medis ini bukan hanya sebuah cerita, tetapi akar dari ilmu kedokteran yang kita gunakan sampai saat ini.

Foto dok Islamic Center Jakarta

Ibnu Sina (980–1037 M)

Ibnu Sina, atau biasa dikenal sebagai Avicenna, adalah seorang dokter sekaligus ilmuwan yang sangat cerdas, hingga diberi gelar “Father of Modern Medicine” (Bapak Kedokteran Modern), dan “Al-Syaikh Al-Rais” (Gurunya para guru).

Ia berasal dari Afshana (dekat Bukhara, Uzbekistan/Persia). Ibnu Sina pada umur 10 tahun telah menghafal Al-Qur’an dan mempelajari logika, matematika, dan filsafat. Lalu pada umur 16 tahun, ia mulai mempelajari ilmu kedokteran. Tidak hanya memahami teorinya, tetapi juga merawat pasien secara langsung tanpa memungut biaya. Pada 18 tahun, kemampuannya diakui hingga ia diangkat menjadi dokter istana penguasa Samaniyah, Nuh ibn Mansur.

Pengaruh Ibnu Sina dalam Ilmu Kedokteran

Pengaruh Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran adalah dengan ia membuat ensiklopedia Al-Qanun fi Al-Tibb (The Canon of Medicine). Ini adalah sebuah ensiklopedia 5 volume yang memuat seluruh pengetahuan medis pada saat itu.

Ensiklopedia ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard of Cremona dan menjadi buku teks standar kedokteran di universitas-universitas Eropa selama lebih dari 500 tahun, dari abad ke-12 sampai abad ke-17.

Ibnu Sina juga menemukan konsep karantina (isolasi selama 40 hari) untuk mencegah penyebaran penyakit. Ibnu Sina menjelaskan bahwa penyakit dapat menular melalui udara dan air. Ibnu Sina juga merumuskan 7 aturan uji klinis obat, seperti pentingnya pengujian obat pada tubuh manusia, menguji efek pada penyakit tunggal, dan perlunya replikasi hasil uji obat.

Selain itu, Ibnu Sina juga mengembangkan hubungan antara kesehatan mental (psikologi) dengan kesehatan fisik (psikosomatis) dan mendeskripsikan struktur anatomi dan syaraf optik secara rinci.

Jika Ibnu Sina terkenal karena kemampuannya menyusun seluruh teori medis dan aturan obat menjadi buku panduan dunia ilmu kedokteran, juga penemunya dibantu oleh tokoh besar lainnya yang hidup lebih awal, yaitu Al-Razi. Jika Ibnu Sina adalah penemu teori medis, maka Al-Razi adalah ahlinya dalam memeriksa pasien secara langsung di lapangan.

Ilustrasi Abu Bakar Muhammad Bin Zakariya Ar Razi CNNIndoneiaFajrian

Al-Razi (865–925 M)

Al-Razi, atau Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Al-Razi, atau biasa dipanggil Rhazes, adalah seorang dokter sekaligus ilmuwan yang diberi gelar “The Doctor’s Doctor” (Dokternya para Dokter), dan pelopor kedokteran klinis dan eksperimental.

Ia berasal dari Rayy (dekat Teheran, Iran). Pada awal kehidupannya, Al-Razi adalah seorang pemusik dan ahli kimia. Ia baru mendalami ilmu medis pada usia 30 tahun di Baghdad. Karena dedikasi dan kecerdasannya, ia diangkat menjadi kepala rumah sakit utama di Rayy, kemudian di Baghdad.

Saat menentukan lokasi terbaik untuk rumah sakit Baghdad, Al-Razi menggantungkan potongan daging segar di berbagai sudut kota. Lokasi di mana daging paling lambat membusuk dipilih sebagai lokasi rumah sakit karena udaranya paling bersih.

Pengaruh Al-Razi dalam Ilmu Kedokteran

Pengaruh Al-Razi dalam ilmu kedokteran adalah penemuan cacar (smallpox) dan campak (measles). Dalam karyanya Al-Judari wa Al-Hasbah, Al-Razi menjadi ilmuwan pertama di dunia yang secara rinci membedakan gejala cacar dan campak, dua penyakit yang sebelumnya dianggap sama.

Al-Razi juga membuat sebuah ensiklopedia yang berjudul “Kitab Al-Hawi fi Al-Tibb” (The Comprehensive Book of Medicine). Ini adalah ensiklopedia 23 volume yang mencakup ilmu kedokteran Yunani, India, Persia, dan Arab, dilengkapi dengan catatan kasus pribadi Al-Razi.

Al-Razi juga mengajarkan penggunaan lembar rekam medis pasien untuk pencatatan riwayat penyakit, diagnosis, dan efektivitas pengobatan yang diberikan.

Selain itu, Al-Razi juga menggunakan pengetahuan kimianya untuk memproduksi alkohol dan air mawar yang digunakan sebagai antiseptik pembersih luka.

Setelah Al-Razi berhasil memelopori cara mendiagnosis penyakit dan Ibnu Sina melengkapinya dengan teori pengobatan, masih ada bagian penting lainnya dalam dunia medis yaitu operasi. Di sinilah Al-Zahrawi ada untuk menambah pengetahuan melalui keahliannya di bidang pembedahan.

43S. Abu al Qasim Khalaf bin Abbas al Zahrawi 936 1013

Al-Zahrawi (936–1013 M)

Al-Zahrawi, atau Abu Al-Qasim Al-Zahrawi, atau Abulcassis, adalah seorang dokter yang berasal dari El-Zahra (dekat Cordoba, Andalusia/Spanyol).

Al-Zahrawi menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kota Cordoba, ibu kota kekhalifahan Umayyah di Andalusia. Ia menjadi dokter pribadi Khalifah Al-Hakam II dan mengabdikan hidupnya untuk melatih para ahli bedah serta merawat masyarakat yang mampu. Ia hingga diberi gelar “Father of Modern Surgery” (Bapak Bedah Modern).

Pengaruh Al-Zahrawi dalam ilmu kedokteran adalah ia membuat ensiklopedia yang berjudul Kitab Al-Tasrif Liman ‘Ajiza ‘an Al-Ta’lif, yang berisi 30 volume yang membahas praktik medis dan bedah.

Volume ke-30 secara khusus berfokus pada teknik bedah dan memuat ilustrasi ratusan instrumen bedah, seperti skalpel, kuret, retraktor, pengunci pembuluh darah, dan spekulum.

Al-Zahrawi juga menemukan penggunaan benang catgut (usus hewan) untuk menjahit jaringan dalam tubuh tanpa meninggalkan jahitan yang dapat diserap secara alami oleh tubuh tanpa efek samping.

Selain itu, Al-Zahrawi juga merintis teknik pembedahan amandel (tonsilektomi), ekstraksi batu ginjal, kantung kemih, dan pengobatan tulang patah yang kompleks.

Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, Al-Zahrawi tentang kemampuannya di dalam bidang pembedahan, hingga lebih dari 200 lebih alat bedah modern ada sebenarnya.

ibnu al nafis ilustrasi 120816212422 815

Ibnu Al-Nafis(1213–1288 M)

Ibnu Al-Nafis adalah seorang dokter yang diberi gelar Pemimpin Sirasi? (Pulmonar). Ia berasal dari Damaskus, Suriah.

Ibnu Al-Nafis mempelajari ilmu medis di Rumah Sakit Nuri. Ia kemudian pindah ke Kairo dan diangkat menjadi kepala Rumah Sakit Al-Nasri. Ia kemudian pindah ke Kairo dan menjadi kepala Rumah Sakit Al-Mansuri serta menjadi dokter pribadi Sultan Baibars dari Dinasti Mamluk.

Selain ahli kedokteran, ia juga merupakan seorang ulama fiqih dan ahli bahasa.

Pengaruh Ibnu Al-Nafis dalam Ilmu Kedokteran

Ibnu Al-Nafis mematahkan teori Yunani kuno, Galen, yang menyatakan bahwa darah dan bilik kanan jantung melalui jantung menuju paru-paru.

Ibnu Al-Nafis menjelaskan bahwa darah dari bilik kanan jantung tidak langsung menuju bilik kiri, melainkan harus melewati paru-paru (sirkulasi pulmonalis).

Penemuan ini mendahului riset William Harvey di Eropa pada tahun 1628. Ibnu Al-Nafis juga menulis kitab Syarh Tasyrih Al-Qanun, yang berisi penjelasan mengenai anatomi dan fisiologi tubuh manusia.

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah bahwa tidak semua penemuan penting ditemukan oleh ilmuwan Barat. Tapi ada juga penemuan yang ditemukan oleh orang-orang Muslim, salah satunya adalah ilmu kedokteran.

Tanpa Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Zahrawi, dan tokoh-tokoh lainnya, ilmu kedokteran sekarang tidak akan se-maju ini. Jadi hendaknya kita bangga menjadi seorang Muslim, bisa jadi kita adalah penemu penemuan terbesar di masa depan.

Sumber Buku:

Fauzan, Muhammad Ihsan, dkk. 2012. 100 Tokoh Penemu Terhebat di Dunia. Surakarta: BISMA PUBLISHING.

 

SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak – Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi
🌐 Website Pendaftaran Murid Baru:
https://pmb.assyifa.info/?

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

four + two =

Berita Lainnya