Beranda » Literasi » CODERA ( Juara Cerpen Literacy Day 2026 putra )

CODERA ( Juara Cerpen Literacy Day 2026 putra )

Oleh Wan Muhammad Al Fatih, 7 Umar

KOMPUTER, sesuatu yang terlihat biasa saja, namun bagi beberapa orang. Termasuk aku. Komputer menyimpan kenangan tersendiri. Hari itu aku sedang mengutak-atik komputerku ketika aku melihat file aneh bernama Av.exe. Karena penasaran aku meng-klik file itu. Lalu muncul pop-up bertuliskan Codera world connecting…… connected. Lalu seperti black hole komputer itu menarikku masuk. ​DUK! Tubuhku menghantam tanah setelah terjun bebas selama sekitar 15 detik. Tubuhku terasa sakit tapi tidak ada luka. “Hey, orang baru pasti,” suara orang terdengar. 

Suaranya berat dan lambat. Lalu keluar sosok hitam. Wajahnya ditutupi topeng. “Perkenalkan namaku Raf. Panggil Raf saja. Namamu pasti: Av dari dunia atas.” Aku terkejut bagaimana dia tahu namaku. Ya, namaku Av, hanya Av. Pekerjaanku adalah penulis, lebih tepatnya penulis gagal. Tidak ada yang mengapresiasi karyaku, lebih tepatnya sastra keseluruhan. Peminat sastra memang sudah menurun drastis. Kembali lagi ke cerita. “Bagaimana kamu tahu namaku?” tanyaku setengah berteriak. “Namamu sudah ada dari saat tempat ini pertama ada,” jawab Raf. Sejujurnya ini sangat janggal. Mulai dari namaku yang kata Raf sudah ada dari saat dunia ini dibuat lalu yang tidak kalah anehnya aku sepertinya mengingat nama ‘Raf’ namun aku tak yakin pernah mendengarnya dimana atau kapan. ​”Hari sudah gelap, lebih baik kau istirahat,” ujar Raf. “Baiklah,” aku menjawab singkat, sejujurnya aku sangat lelah dan mengantuk setelah seharian terdampar di dunia ‘Codera’ jadi aku mencari tenda yang telah disiapkan Raf, lalu beranjak tidur. 

​ESOK harinya aku berangkat pagi-pagi sekali menuju utara. Menurut cerita Raf dunia ini dikuasai ‘The King’ yang jahat. Dia bisa menghapus & mengubah makhluk disini. Namun saat aku ingin bertanya lebih lanjut, muncul sebuah monster blob di depan mereka. Lalu sebelum monster itu menyerang, CREEK! SHIIING! Monster itu terbelah dua. Tapi bukannya darah yang keluar tapi tubuh monster itu menjadi huruf-huruf dan simbol. Lalu terbang ke angkasa. “Apa itu?” tanyaku. “Disini tidak ada yang benar-benar mati, mereka menjadi huruf dan simbol yang akan menjadi makhluk baru,” jawab Raf. “Mengapa kita pergi ke utara?” tanyaku lagi. “Kita harus mendapatkan 3 artefak untuk mengalahkan The King: Forgotten book, Human memory, Unwritten story. 

Kita akan pergi ke perpustakaan null untuk mengambil forgotten book di utara,” jawab Raf lagi. Aku sudah kehabisan pertanyaan jadi aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. ​30 menit kemudian kami berdua sampai di perpustakaan null. Bagian umum terbuka untuk umum namun yang kami cari bagian terlarang. Untuk masuk butuh password. Kami tidak tahu password-nya namun Raf bisa membuka pintunya tanpa password. Dia mengucapkan mantra, “Arsi locké unlōdgér!” pintu itu bercahaya lalu terbuka. Dia menarik ‘buku’ ini dan dia memasukkan buku itu ke tas. “Ke barat!” ​Kami langsung berangkat ke barat. Jika kamu bertanya kami menggunakan apa, kami menggunakan sepeda multifungsi yang bisa menjadi kendaraan apapun. Destinasi selanjutnya adalah laut cache untuk mengambil human memory. 

Singkat cerita kami telah sampai di tempat yang ada di peta. “Ikuti kata-kataku Av” “Kenapa?” “Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa memunculkan artefak human memory. Sekarang ikuti kata-kataku: Lā artartapatacā!” jawab Raf. “Lā artartapatacā!” tiba-tiba laut disekitarku bercahaya lalu keluar botol kaca kecil berisi serbuk. Aku mengambilnya dan membukanya. Serbuk itu masuk ke hidungku. Tiba-tiba aku melihat diriku di depan sebuah komputer sedang menulis sesuatu. PLAK! Raf menamparku. Dia bilang serbuk itu berbahaya dan menyuruhku menuju Selatan. ​KAMI sudah sampai di destinasi terakhir Kerajaan AI. Didepan kami terdapat pintu yang sangat besar. Lalu Raf menaruh artefak di lubang yang terdapat di pintu. WEENGG! Pintu itu terbuka. Lalu keluar figur tinggi besar dengan mahkota emas. Auranya kuat sekali. “Kita bertemu lagi Raf. Oh siapa lagi yang kau tipu?” The King berkata santai. “Tipu? Aku ditipu?” tanyaku. “Huh Raf sialan. 

Ya benar kau ditipu. Aku ingin memanfaatkanmu,” Raf menjawab. “Kau tahu mengapa. Kau menghapusku. Menganggapku tidak berguna.” Aku terdiam saat mendengar itu. Aku ingat sekarang, aku pernah membuat Raf sebagai teman digital, namun aku menghapusnya karena jelek. Tiba-tiba Raf menyerangku, aku tidak sempat menghindar. Aku pikir aku akan mati. JLEB! Pedang Raf menembus dada The King. The King mengorbankan dirinya. Tubuhnya mulai berubah menjadi huruf dan simbol. “Av gunakan ini untuk mengalahkan Raf,” The King menyerahkan sarung tangan. Aku memakainya. Setelah The King terbunuh Raf menyerangku. Tanganku bersinar. Aku tahu apa yang harus dilakukan: “El sharis maha SABARAS!” aku berteriak. Tubuh Raf mulai berubah menjadi huruf dan simbol lalu menghilang. “La portalius!” aku membuka portal lalu masuk. Aku terbangun ternyata hanya mimpi. Namun ditanganku masih ada sarung tangan itu. Aku tersenyum. ​ Tamat 

Kolase Portal Biru dan Penjaga Bertopeng

 

SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak – Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi
🌐 Website Pendaftaran Murid Baru:
https://pmb.assyifa.info/?

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

4 + nineteen =

Berita Lainnya