Beranda » Blog » Ketika Validasi Media Sosial Menjadi Tujuan Hidup

Ketika Validasi Media Sosial Menjadi Tujuan Hidup

Oleh: Ustad Syaiful Anwar

Hari ini, sebuah foto bisa mendapatkan ratusan like dalam hitungan menit. Sebuah video bisa ditonton ribuan orang. Komentar, jumlah pengikut, dan jumlah view terkadang menjadi ukuran seberapa populer seseorang.

Bagi sebagian remaja, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita. Tanpa disadari, media sosial bisa berubah menjadi tempat mencari pengakuan dan validasi.

“Kenapa tidak ada yang menyukai postinganku?”

“Kok teman-temanku lebih banyak followers-nya?”

“Kenapa fotoku tidak mendapatkan banyak like?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, jika terus memenuhi pikiran, dapat membuat seseorang menggantungkan kebahagiaannya kepada penilaian manusia.

Padahal, seorang Muslim perlu menyadari bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah like, komentar, followers, atau views.

Ketika “Like” Menjadi Ukuran Harga Diri

Media sosial sebenarnya hanyalah alat. Ia bisa menjadi sarana untuk belajar, berdakwah, berbagi inspirasi, dan menjalin silaturahmi.

Namun, masalah muncul ketika seseorang mulai menjadikan perhatian manusia sebagai tujuan utama.

Ia mulai memilih pakaian berdasarkan komentar orang.

Memilih aktivitas berdasarkan apa yang sedang viral.

Mengunggah kebaikan agar dipuji.

Merasa bahagia ketika mendapatkan banyak perhatian dan merasa rendah diri ketika tidak mendapatkan respons.

Pada titik tertentu, seseorang tidak lagi bertanya:

“Apakah ini baik?”

Tetapi:

“Apakah orang lain akan menyukai ini?”

Inilah yang perlu kita waspadai.

Allah Tidak Menilai Kita dari Penampilan

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Hadits ini sangat relevan dengan kehidupan media sosial.

Manusia cenderung melihat apa yang tampak: wajah, pakaian, prestasi, kendaraan, tempat yang dikunjungi, dan berbagai pencapaian.

Sementara Allah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam:

hati dan amal.

Maka, jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah apa yang terlihat oleh manusia, tetapi lupa memperbaiki apa yang ada di hadapan Allah.

Foto mungkin mendapatkan seribu like, tetapi belum tentu mendapatkan nilai di sisi Allah.

Sebaliknya, sebuah kebaikan yang tidak diketahui siapa pun bisa jadi sangat bernilai di sisi-Nya karena dilakukan dengan ikhlas.

Waspada terhadap Riya

Islam mengajarkan kita untuk menjaga keikhlasan.

Allah SWT berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Riya adalah melakukan amal dengan tujuan agar dilihat dan dipuji manusia.

Di era media sosial, bentuknya bisa menjadi lebih halus.

Seseorang bersedekah lalu ingin segera mengunggahnya.

Seseorang membantu orang lain lalu berharap mendapatkan pujian.

Seseorang melakukan ibadah lalu lebih sibuk memikirkan bagaimana orang lain melihatnya.

Tentu, tidak setiap unggahan kebaikan otomatis berarti riya. Ada kalanya seseorang berbagi untuk menginspirasi atau mengajak kepada kebaikan.

Namun, kita perlu sering bertanya kepada diri sendiri:

“Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui, apakah saya tetap mau melakukan kebaikan ini?”

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita memeriksa keikhlasan hati.

Kisah Nyata: Tiga Orang yang Tampak Mulia, tetapi…

Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan sebuah kisah yang sangat menggetarkan tentang tiga golongan manusia yang pada lahirnya melakukan amal yang luar biasa.

Ada seseorang yang gugur dalam perjuangan dan dikenal sebagai pemberani.

Ada seseorang yang banyak mempelajari dan mengajarkan ilmu.

Ada seseorang yang gemar bersedekah dan memberikan hartanya.

Jika dilihat oleh manusia, ketiganya tampak sebagai orang-orang yang sangat baik.

Namun, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka mendapatkan celaan karena amal tersebut dilakukan agar disebut sebagai pemberani, orang berilmu, dan dermawan.

Kisah ini bukan berarti mengajarkan kita untuk takut berbuat baik.

Justru sebaliknya.

Kisah ini mengajarkan bahwa amal yang terlihat hebat di mata manusia belum tentu bernilai jika niatnya rusak.

Inilah bahayanya ketika penilaian manusia menjadi tujuan.

Seseorang dapat melakukan sesuatu yang sebenarnya baik, tetapi perlahan hatinya bergeser:

Dari “Saya ingin Allah ridha”

menjadi

“Saya ingin orang lain melihat saya.”

Jangan Hidup untuk Mengejar Tepuk Tangan

Bayangkan seseorang berjalan sambil terus melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menyukai unggahannya.

Hari ini mendapatkan banyak like, ia bahagia.

Besok mendapatkan sedikit like, ia kecewa.

Hari ini dipuji, ia percaya diri.

Besok dikritik, ia merasa dirinya tidak berharga.

Jika kebahagiaan kita bergantung pada penilaian manusia, maka hidup kita akan selalu berubah mengikuti komentar orang lain.

Padahal manusia tidak akan pernah sepenuhnya puas.

Hari ini dipuji karena sesuatu, besok mungkin dikritik karena hal yang sama.

Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk membangun harga diri di atas sesuatu yang lebih kokoh:

iman, ketakwaan, akhlak, dan amal saleh.

Anak-Anak Kita Perlu Diajarkan “Nilai Diri”

Inilah salah satu tugas penting orang tua dan guru.

Ajarkan kepada anak bahwa:

Kamu tidak menjadi berharga karena banyak yang menyukaimu.

Kamu tidak menjadi hebat karena banyak pengikutmu.

Kamu tidak menjadi gagal hanya karena sebuah unggahanmu sepi.

Nilai seorang manusia jauh lebih besar daripada angka yang muncul di layar.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas:

Kemuliaan bukan ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh ketakwaan.

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial.

Gunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat.

Bagikan ilmu.

Sebarkan inspirasi.

Promosikan karya.

Bangun silaturahmi.

Dukung teman.

Gunakan kreativitas untuk menghasilkan sesuatu yang positif.

Tetapi jangan biarkan media sosial menentukan nilai diri kita.

Sebelum mengunggah sesuatu, kita bisa bertanya:

Apakah ini bermanfaat?

Apakah ini benar?

Apakah ada unsur pamer di dalamnya?

Apakah saya akan tetap melakukan hal ini jika tidak ada yang memberikan like?

Jika jawabannya membuat hati kita tidak nyaman, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Hikmah yang Lebih Dalam

Ada sebuah pelajaran indah yang dapat kita renungkan:

Apa yang viral di dunia belum tentu bernilai di akhirat.

Dan sebaliknya:

Apa yang tidak terlihat oleh manusia bisa jadi sangat besar nilainya di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bahkan menyebutkan bahwa setelah seseorang meninggal, salah satu amal yang terus memberikan manfaat adalah anak saleh yang mendoakannya.

Bayangkan seorang ayah atau ibu yang selama hidupnya mungkin tidak terkenal di media sosial.

Tidak memiliki jutaan pengikut.

Tidak pernah menjadi viral.

Namun ia mendidik anaknya dengan iman, adab, dan kasih sayang.

Kemudian setelah ia meninggal, anaknya mendoakannya.

Kebaikan itu terus mengalir.

Inilah bentuk “popularitas” yang jauh lebih berharga: dikenal oleh Allah, bukan sekadar dikenal oleh manusia.

Penutup

Media sosial tidak salah.

Mencari apresiasi juga merupakan sesuatu yang manusiawi.

Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai apresiasi manusia menjadi tujuan hidup.

Jangan sampai kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter.

Jangan sampai kita lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan keikhlasan.

Jangan sampai kita lebih sedih ketika postingan tidak mendapatkan like daripada ketika hati kita jauh dari Allah.

Karena pada akhirnya, ketika semua layar dimatikan, semua akun ditutup, dan semua komentar berhenti, kita akan kembali kepada Allah dengan membawa satu hal:

amal kita.

Maka mari kita ajarkan kepada generasi muda:

Tidak perlu menjadi terkenal untuk menjadi berharga.

Tidak perlu viral untuk menjadi berarti.

Tidak perlu mendapatkan tepuk tangan manusia untuk melakukan kebaikan.

Cukuplah Allah mengetahui.

Cukuplah Allah melihat.

Dan cukuplah ridha Allah menjadi tujuan.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita dan anak-anak kita dari penyakit riya, cinta popularitas yang berlebihan, serta ketergantungan kepada penilaian manusia. Semoga Allah menjadikan media sosial sebagai sarana kebaikan, bukan sumber kesombongan dan kelalaian.

Karena sesungguhnya, yang paling penting bukanlah berapa banyak orang yang menyukai kita, tetapi apakah Allah meridhai kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

anak remajaa4

 

SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak – Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi
🌐 Website Pendaftaran Murid Baru:
https://pmb.assyifa.info/?

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

eight − 3 =

Berita Lainnya

  • Shalat Dhuha dan Morning Motivation, Awali Jumat dengan Ibadah dan Semangat Positif di SMPIT As-Syifa Jalancagak

    Shalat Dhuha dan Morning Motivation, Awali Jumat dengan Ibadah dan Semangat Positif di SMPIT As-Syifa Jalancagak

    • Jumat, 4 September 2026

    Jumat pagi menjadi salah satu momentum yang dimanfaatkan SMPIT As-Syifa Boarding School untuk membangun kebiasaan positif sekaligus memperkuat karakter spiritual murid. Sebelum memulai kegiatan pembelajaran, para murid melaksanakan shalat Dhuha berjamaah yang dilanjutkan dengan doa bersama dan morning motivation. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap Jumat pagi dan diikuti oleh murid putra maupun putri dengan […]

    Selengkapnya »
  • Menjemput Hasil dari Sebuah Ikhtiar, Murid SMPIT As-Syifa Jalani PTS

    Menjemput Hasil dari Sebuah Ikhtiar, Murid SMPIT As-Syifa Jalani PTS

    • Rabu, 16 September 2026

    Jalancagak, 15 September 2026 – SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak Subang melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS) bagi seluruh murid pada 14–25 September 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses evaluasi pembelajaran untuk mengetahui perkembangan pemahaman dan pencapaian kompetensi murid selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. PTS dilaksanakan selama dua pekan dengan mata pelajaran yang diujikan sesuai […]

    Selengkapnya »
  • Kunci Utama Pembentukan Karakter Murid

    Kunci Utama Pembentukan Karakter Murid

    • Rabu, 23 September 2026

    Dalam dunia pendidikan, terdapat pepatah bijak yang menyatakan bahwa “Satu contoh keteladanan jauh lebih berharga daripada seribu kata-kata nasihat.” Di tengah gempuran arus informasi dan dinamika perkembangan zaman, tantangan terbesar seorang pendidik bukanlah kurangnya teori atau metode mengajar, melainkan bagaimana menjadi percontohan nyata dari nilai-nilai yang kita ajarkan. Di SMPIT As-Syifa Boarding School Subang, di […]

    Selengkapnya »
  • Semarak Kemerdekaan 17 Agustus di SMPIT As-Syifa Jalancagak: Meriah, Kompak, dan Penuh Kebersamaan

    Semarak Kemerdekaan 17 Agustus di SMPIT As-Syifa Jalancagak: Meriah, Kompak, dan Penuh Kebersamaan

    • Kamis, 20 Agustus 2026

    Semangat kemerdekaan terasa begitu kuat di lingkungan SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Kegiatan berlangsung meriah dengan rangkaian acara yang tidak hanya menumbuhkan rasa cinta tanah air, tetapi juga mempererat kebersamaan antarmurid, guru, dan seluruh keluarga besar As-Syifa Boarding School. Upacara Bendera, Awali Semangat Kemerdekaan Rangkaian […]

    Selengkapnya »
  • TASYAKUR KHATMIL QURAN DARRELL HAMMAM LUTHFIADI DAN MUHAMMAD FARHAN RAFLIANWAR

    TASYAKUR KHATMIL QURAN DARRELL HAMMAM LUTHFIADI DAN MUHAMMAD FARHAN RAFLIANWAR

    • Jumat, 22 November 2019

    Alhamdulillah bertambah lagi hafiz di SMPIT As-Syifa Boarding School. Darrell Hammam Luthfiadi (Kelas 9 Abu Bakar) putra dari pasangan Mariadi Muhjidin&Lely Yalestiarini  dan Muhammad Farhan Raflianwar (Kelas 9 Ali bin Abi Thalib) putra dari pasangan Agus Budiyono&Maryani berhasil menyelesaikan hafalan Alquran di penghujung semester ganjil. Awal masuk ke SMPIT As-Syifa Boarding School, Darrell Hammam Luthfiadi memiliki hafalan […]

    Selengkapnya »
  • PELANTIKAN PENGURUS BEM MPM &ORGANISASI MITRA BEM PUTRI

    PELANTIKAN PENGURUS BEM MPM &ORGANISASI MITRA BEM PUTRI

    • Sabtu, 28 September 2019

    Senin 2 September 2019, telah dilantik pengurus BEM MPM beserta organisasi mitra BEM (Komunitas Literasi Sekolah, Duta Bahasa dan Hamas DKM). Estafet kepemimpinan akan dilanjutkan oleh Diandra Alifah Malik selama satu periode kepengurusan kedepan yang sebelumnya dikomandoi oleh Darien Zulfa Khairani. Para pengurus organisasi sekolah, dilantik secara langsung oleh Kepala Sekolah Ustadz Farhan Muhammad dan […]

    Selengkapnya »