Kenapa hari Radio Nasional masih penting diperingatkan di era media sosial Tiktok, Spotify dan Instagram?

Oleh: Putra Azzam Elfathin (Ketua Komunitas Literasi SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak)
Setiap tanggal 11 September, bangsa kita memperingati Hari Radio Nasional sekaligus hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI). Di era sekarang, ketika membuka mata di pagi hari, refleks pertama banyak orang saat ini adalah meraba dan mencari handphone. Kita klik berkali-kali notifikasi-notifikasi Instagram, menggulir video pendek di TikTok, atau menyalakan ratusan lagu di playlist Spotify. Dalam ekosistem digital yang serba visual dan instan ini, mendengar kata “radio” mungkin terasa asing, kuno, atau bahkan dianggap sebagai artefak teknologi masa lalu yang layak museum.
Namun, bagi kita, generasi yang lahir dan lahir dan tumbuh yang setiap hari di bombardir layar hp setiap hari, momen Hari Radio Nasional bukan sekadar sebuah pengingat untuk mengenang sebuah benda jadul yang sudah jarang dilihat itu lagi. Hari ini adalah sebuah panggilan penting. Sebuah pengingat keras tentang kekuatan sebuah suara, kekuatan literasi udara, dan mengapa kita tidak boleh membiarkan esensi radio mati ditelan algoritma.
1 Frekuensi yang membahana di 17.000 pulau yang sedang di jajah.

Kita tidak boleh melupakan fakta sejarah bahwa republik ini utang budi pada frekuensi udara. Pada tahun 1945, Indonesia adalah sebuah bayi negara yang baru lahir. Wilayahnya membentang luas, terpisah oleh belasan ribu pulau, dihuni oleh ribuan suku, dan terbelah oleh ribuan bahasa daerah. Di atas tanah yang masih bersimbah darah para syuhada dan pahlawan, bagaimana cara menyatukan hati jutaan manusia dalam satu frekuensi bernama “Indonesia”? Jawabannya adalah radio.
Melalui radiolah, berita proklamasi kemerdekaan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Perjuangan para pendahulu kita di ranah penyiaran adalah perjuangan bertaruh nyawa. Ketika penjajah Jepang menyegel semua stasiun radio untuk membungkam kebenaran, para pemuda dan teknisi kita tidak tinggal diam. Dengan keberanian yang hampir mustahil, mereka nekat menerobos barikade militer, menyelundupkan suku cadang alat pemancar, hingga memanjat menara secara sembunyi-sembunyi untuk “membajak” frekuensi udara.
Puncaknya pada 11 September 1945, delapan delegasi pemuda pemberani berkumpul di Jakarta untuk merebut kendali udara dan mendirikan RRI. Semboyan legendaris yang mereka lahirkan, “Sekali di Udara, Tetap di Udara”, slogan itu bukanlah slogan puitis yang dicari agar estetik. Tapi semboyan itu adalah sumpah berdarah. Sebuah ikrar suci bahwa selama jantung mereka masih berdetak, suara kebenaran tidak akan pernah bisa dibungkam oleh moncong senjata penjajah mana pun. Tanpa “kegilaan” literasi para martir radio ini, roda informasi di awal kemerdekaan kita pasti sudah lumpuh total.
Otak yang semakin rusak dan kecanduan konten yang singkat.

Lalu, mengapa esensi radio ini harus tetap kita suarakan di era media sosial? Alasan pertama adalah tentang krisis kedalaman berpikir.
Media sosial hari ini, seperti TikTok atau Instagram Reels, memanjakan mata kita dengan stimulasi visual yang bergerak sangat cepat. Yang biasanya sebuah scene dari video berganti setiap 6-7 detik, kini bahkan hanya sampai 2 detik. Dampaknya? Tidak main-main. Rentang perhatian (attention span) generasi kita menurun drastis yang biasanya terbiasa dengan video yang tenang dan mengalir, 7-2- menit video, kini otak ingin yang cepat, tombol percepat video 2x selalu ditekan agar otak tidak bosan dengan scene yg sangat lambat . Kita menjadi generasi yang tidak sabaran, mudah bosan, dan hanya mengonsumsi informasi di permukaan.
Di sinilah radio atau media berbasis audio menjadi penyelamat literasi yang krusial. Berbeda dengan media visual yang menyuapi mata kita secara pasif, radio mengajak imajinasi kita bekerja secara aktif. Saat mendengarkan narasi, teater radio, atau penuturan berita, otak kita dipaksa melukis visualnya sendiri di dalam pikiran. Radio melatih satu kemampuan yang mulai langka di generasi kita: kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian (active listening). Dalam tradisi pendidikan Islam di boarding school, menyimak (sama’) adalah fondasi utama dalam menyerap ilmu. Radio melatih ketahanan mental kita untuk fokus dan menghargai proses sebuah gagasan disuarakan.
Yakin radio masih relevan?
Alasan kedua mengapa radio tetap relevan adalah masalah kepercayaan. Hari ini, ruang digital kita mengalami anarki informasi. Berita bohong (hoax), ujaran kebencian, dan jurnalisme umpan klik (clickbait) menyebar dalam hitungan detik lewat algoritma media sosial yang sengaja untuk memunculkan emosi negatif kita. Di media sosial, siapapun bisa menjadi “sumber berita” tanpa peduli apakah pengguna itu sudah diverivikasi, terakurasi, dll.
Jadi, radio mengambil peran yang berseberangan dengan kekacauan hoax ini. Sebagai media konvensional yang patuh pada undang-undang, radio memiliki standar jurnalistik yang ketat. Ada proses penyaringan, verifikasi, dan penyuntingan berlapis sebelum sebuah informasi mengudara. Di tengah lautan hoax digital, radio tetap berdiri kokoh sebagai salah satu sumber informasi paling tepercaya, jernih, dan minim distorsi. Radio adalah jangkar kewarasan publik.
Aslinya, radio tidak pernah mati

Sadar atau tidak, radio sebenarnya tidak pernah mati. ia hanya beradaptasi. Tren mendengarkan podcast di Spotify atau konten obrolan panjang di YouTube yang sangat populer di kalangan remaja saat ini adalah perubahan modern dari konsep radio. Banyak stasiun radio saat ini termasuk RRI ( Radio Republik Indonesia ) telah bermigrasi ke ranah digital melalui aplikasi streaming dan visual radio.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan: kemanusiaan. Algoritma media sosial dirancang oleh kecerdasan buatan yang gapeduli dengan urusan kamu, dia hanya peduli video apa yang kamu tonton sampai habis, jenis video yang kamu like, dll. memenjarakan kita dalam kotak gema (echo chamber) yang membuat kita hanya melihat jenis video yang sering kita tonton sampai habis. Sebaliknya, radio menghadirkan sosok penyiar. seorang manusia asli di sebuah mikrofon yang menyapa, menemani, dan berbagi ruang rasa secara langsung dengan pendengarnya. Kehangatan interaksi kemanusiaan ini tidak akan pernah bisa ditiru oleh algoritma media sosial dan video pendek mana pun.
Komitmen Nyata Melalui Elshifa Radio FM

Di tengah gempuran tren digital yang tak bermanfaat dan serba instan, sekolah dan yayasan kita justru melangkah lebih maju dengan mempertahankan Elshifa Radio FM agar tetap eksis mengudara. Ini adalah bukti otentik bahwa Yayasan As-Syifa Al- Khoeriyyah tidak mudah terseret arus visual yang mendangkalkan pikiran, melainkan terus konsisten merawat tradisi literasi suara yang mendalam. Melalui Elshifa Radio 100.2 FM, dakwah dan edukasi tidak lagi terasa kaku atau berjarak, melainkan hadir dengan sentuhan yang dekat ke telinga warga pesantren serta masyarakat sekitar. Jauh dari sekadar pemancar suara biasa. Langkah nyata ini menjadi bukti kuat bahwa Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah tidak hanya menjadi yayasan amal dan pendidikan pasif di era digital, melainkan produsen konten yang cerdas dan menginspirasi dari balik mikrofon siaran.
Peringatan, bukan sebuah perigatan.
Bagi kita di SMPIT As-Syifa Boarding School, peringatan Hari Radio Nasional ini harus menjadi pemantik semangat bertumbuhnya gerakan literasi. Kita dikaruniai berbagai fasilitas dan media: ada mading sekolah, perpustakaan, laboratorium komputer, hingga potensi untuk bergabung organisasi literasi.
Kita harus meniru spirit para pemuda penyiaran tahun 1945. Jika dahulu mereka nekat membajak pemancar militer Jepang demi menyebarkan berita kemerdekaan, maka tugas kita hari ini adalah “merebut” ruang udara digital untuk menyebarkan konten-konten yang positif, edukatif, dan sarat nilai kebaikan. Jangan biarkan media sosial kita hanya dipenuhi oleh tren joget tidak bermanfaat atau berita-berita hoaks.
Mari kita manfaatkan momen 11 September ini untuk mengapresiasi industri penyiaran tanah air, sekaligus merefleksikan diri. Selamat Hari Radio Nasional! Mari bersama-sama menjaga agar suara-suara kebaikan, kebenaran, dan persatuan terus mengudara—baik lewat frekuensi radio, maupun lewat ketikan jemari kita di media sosial
Sekali di Udara, Tetap di Udara!

SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak – Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi
🌐 Website Pendaftaran Murid Baru: https://pmb.assyifa.info/?

Saat ini belum ada komentar