Mendidik Anak di Era Digital: Antara Teknologi dan Akhlak
- Rabu, 26 Agustus 2026
- Pendidikan
- Cetak

Oleh: Syaiful Anwar (Guru TIK)
Di zaman sekarang, teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Smartphone, internet, media sosial, YouTube, gim, hingga kecerdasan buatan (AI) hadir begitu dekat dalam keseharian mereka.
Dalam hitungan detik, seorang anak dapat memperoleh berbagai macam informasi. Ia bisa belajar matematika melalui video, membaca Al-Qur’an melalui aplikasi, mencari referensi tugas sekolah, bahkan berkomunikasi dengan teman yang berada jauh di tempat lain.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat sebuah pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama:
Apakah anak-anak kita sudah memiliki akhlak dan kebijaksanaan yang cukup untuk menggunakan teknologi tersebut?
Sebab, persoalan pendidikan di era digital bukan lagi sekadar tentang apakah anak boleh menggunakan teknologi atau tidak. Persoalan yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak menggunakan teknologi dengan benar dan bertanggung jawab.
Teknologi Adalah Alat, Bukan Tujuan
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Ia dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju keburukan.
Sebuah smartphone bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, tetapi perangkat yang sama juga dapat digunakan untuk melihat sesuatu yang tidak pantas.
Internet dapat digunakan untuk belajar dan mencari ilmu, tetapi internet juga dapat menjadi tempat tersebarnya berita bohong, ujaran kebencian, bahkan berbagai konten yang merusak akhlak.
Karena itu, yang perlu kita bangun bukan hanya kecakapan digital, tetapi juga akhlak digital.
Anak perlu belajar bahwa setiap kali membuka layar, mengetik sesuatu, memberikan komentar, membagikan informasi, atau menonton sebuah konten, semuanya memiliki konsekuensi.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra: 36) (Quran.com)
Ayat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini.
Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita baca, bahkan informasi yang kita ikuti, semuanya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Maka seorang anak perlu diajarkan untuk tidak mudah percaya pada informasi yang muncul di layar. Tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang menarik itu baik, dan tidak semua yang bisa dilakukan berarti boleh dilakukan.
Anak Tidak Hanya Membutuhkan Kontrol, tetapi Juga Karakter
Ketika membicarakan penggunaan gadget oleh anak, sering kali pembahasan berhenti pada persoalan aturan.
Berapa jam boleh bermain?
Kapan handphone harus dikumpulkan?
Aplikasi apa yang boleh digunakan?
Website apa yang harus diblokir?
Semua itu penting. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Bagaimana jika suatu hari anak berada di tempat yang tidak ada orang tua atau guru yang mengawasi?
Di situlah karakter dan akhlak mengambil peran.
Anak yang hanya takut karena diawasi mungkin akan berhenti ketika pengawasan hilang. Tetapi anak yang memiliki kesadaran bahwa Allah selalu melihatnya akan belajar mengendalikan dirinya meskipun tidak ada manusia yang melihat.
Inilah tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar membuat anak patuh ketika diawasi, tetapi membentuk pribadi yang mampu menjaga dirinya ketika tidak ada yang mengawasi.
Orang Tua dan Guru Adalah “Penjaga” di Era Digital
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari) (Sahih al-Bukhari)
Hadits ini mengingatkan bahwa mendidik anak adalah amanah.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendampingi anak di rumah. Guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak di sekolah. Keduanya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Anak membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan keteladanan.
Sulit bagi kita meminta anak mengurangi penggunaan handphone jika orang dewasa di sekitarnya terus-menerus sibuk dengan layar.
Sulit meminta anak berbicara dengan sopan di media sosial jika mereka sering melihat orang dewasa mencaci, menghina, atau menyebarkan sesuatu tanpa tabayyun.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Karena itu, pendidikan digital sejatinya dimulai dari rumah dan diperkuat di sekolah.
Akhlak Digital: Ketika Jari Juga Harus Beradab
Dahulu kita mengenal istilah “mulutmu harimaumu.”
Di era digital, mungkin kita perlu menambahkan:
“Jemarimu juga amanahmu.”
Satu komentar dapat menyakiti hati seseorang.
Satu unggahan dapat mempermalukan orang lain.
Satu berita yang belum tentu benar dapat tersebar kepada ribuan orang.
Satu foto yang dibagikan tanpa izin dapat menimbulkan masalah panjang.
Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan prinsip yang sangat sederhana:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Muslim) (Sunnah)
Prinsip ini tidak hanya berlaku ketika kita berbicara secara langsung.
Ia juga berlaku ketika kita mengetik.
Sebelum memberikan komentar, tanyakan:
Apakah ini benar?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ini perlu disampaikan?
Apakah cara saya menyampaikannya sudah baik?
Jika tidak membawa kebaikan, terkadang tidak berkomentar adalah pilihan yang lebih bijaksana.
Sebuah Cerita Hikmah: “Kalau Tidak Ada yang Melihat?”
Ada sebuah kisah yang sering disampaikan dalam pendidikan Islam tentang seorang guru yang memberikan tugas kepada murid-muridnya.
Guru tersebut berkata,
“Sembelihlah seekor ayam. Lakukan di tempat yang tidak ada seorang pun yang melihat kalian.”
Para murid kemudian pergi mencari tempat yang sepi.
Sebagian pergi ke belakang rumah. Sebagian pergi ke kebun. Ada pula yang mencari tempat yang jauh dari keramaian.
Tak lama kemudian, mereka kembali membawa ayam yang telah disembelih.
Namun, ada seorang murid yang kembali dengan ayam yang masih hidup.
Sang guru bertanya,
“Mengapa kamu tidak menyembelih ayam itu?”
Murid tersebut menjawab,
“Saya sudah mencari tempat yang tidak ada seorang pun yang melihat, tetapi saya tidak menemukan tempat seperti itu.”
Guru bertanya,
“Mengapa?”
Ia menjawab,
“Karena di mana pun saya berada, Allah selalu melihat saya.”
Kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat dalam.
Inilah karakter yang perlu kita tanamkan kepada anak-anak di era digital.
Bukan sekadar:
“Jangan membuka situs itu karena Ayah bisa melihat.”
Tetapi:
“Jangan membukanya karena Allah melihat.”
Bukan sekadar:
“Jangan berkata kasar di media sosial karena guru bisa mengetahuinya.”
Tetapi:
“Jagalah ucapanmu karena Allah mengetahui apa yang kamu tuliskan.”
Inilah perbedaan antara anak yang takut diawasi manusia dengan anak yang memiliki kesadaran kepada Allah SWT.
Jangan Memusuhi Teknologi, Ajarkan Anak Menaklukkannya
Kita tidak mungkin membawa anak kembali ke zaman tanpa internet.
Kita juga tidak mungkin sepenuhnya menghilangkan teknologi dari kehidupan mereka.
Sebaliknya, kita perlu mendidik mereka agar mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, produktif, dan berakhlak.
Ajarkan anak menggunakan teknologi untuk:
- mencari ilmu;
- membaca dan mempelajari Al-Qur’an;
- mengembangkan kreativitas;
- membuat karya;
- belajar bahasa;
- mendapatkan informasi yang bermanfaat;
- membangun komunikasi yang baik;
- dan memanfaatkan AI serta teknologi modern secara bertanggung jawab.
Namun bersamaan dengan itu, ajarkan pula:
- tabayyun sebelum menyebarkan informasi;
- menjaga pandangan ketika menggunakan internet;
- menjaga lisan dan tulisan di media sosial;
- menghormati privasi orang lain;
- menghindari konten yang merusak;
- mengatur waktu agar teknologi tidak melalaikan ibadah dan kewajiban;
- serta selalu menghadirkan kesadaran bahwa Allah SWT mengetahui apa yang kita lakukan.
Pendidikan Terbaik Adalah Membentuk Hati
Pada akhirnya, pendidikan anak di era digital bukanlah perlombaan untuk membuat anak paling cepat menguasai teknologi.
Lebih dari itu, kita ingin melahirkan generasi yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan akhlaknya.
Generasi yang pintar menggunakan AI, tetapi tetap jujur.
Generasi yang aktif di media sosial, tetapi tetap menjaga adab.
Generasi yang mampu mendapatkan informasi dengan cepat, tetapi tetap melakukan tabayyun.
Generasi yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi tetap rendah hati.
Generasi yang menggunakan teknologi bukan untuk menjauh dari Allah, tetapi justru menjadikannya sebagai sarana untuk semakin mengenal kebesaran-Nya.
Sebab, teknologi yang maju tanpa akhlak dapat menjadi ancaman. Tetapi teknologi yang berada di tangan manusia beriman dan berakhlak dapat menjadi sarana kebaikan dan kemaslahatan.
Maka tugas kita sebagai orang tua dan guru bukan hanya bertanya:
“Sudah berapa lama anak menggunakan gadget hari ini?”
Tetapi mari kita bertanya lebih jauh:
“Untuk apa ia menggunakannya?”
“Apa yang ia lihat?”
“Apa yang ia dengar?”
“Apa yang ia tuliskan?”
Dan yang paling penting:
“Apakah teknologi yang ia gunakan semakin mendekatkannya kepada kebaikan atau justru menjauhkannya dari Allah SWT?”
Di sinilah pendidikan memiliki peran yang sangat besar.
Karena pada akhirnya, anak yang hebat bukanlah anak yang sekadar canggih menggunakan teknologi, tetapi anak yang mampu menggunakan kecanggihannya dengan iman, ilmu, dan akhlak.
Semoga Allah SWT membimbing kita sebagai orang tua dan pendidik agar mampu mendampingi generasi hari ini menjadi generasi yang cerdas dalam teknologi, kuat dalam iman, dan mulia dalam akhlak.
Wallahu a’lam bish-shawab.
SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak – Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi
🌐 Website Pendaftaran Murid Baru:
https://pmb.assyifa.info/?

Saat ini belum ada komentar